Jumat, 12 Februari 2016

KEKUATAN LAUT SRIWIJAYA



KEKUATAN LAUT SRIWIJAYA

Sebagai sebuah kerajaan yang kehidupannya dari perdagangan, kekuatan laut menjadi tumpuannya. Sebuah peraturan mengenai kapal-kapal niaga dikeluarkan oleh penguasa Sriwijaya. Kerajaan lain yang berniaga dengan Sriwijaya, “diwajibkan” untuk menggunakan kapal Sriwijaya.
 Kapal-kapal niaga yang datang ke Sriwijaya sebelum melanjutkan aktifitas niaganya ke Nusantara, terlebih dahulu membongkar muatannya untuk dipindahkan ke Kapal Sriwijaya. Dengan kapal Sriwijaya ini kemudian barang-barang niaga dibawa ke berbagai temapat di Nusantara, seperti Jawa dan Kalimantan.
 
Kapal-Kapal Sriwijaya dibangun dengan menggunakan teknologi tradisi Asia Tenggara, yaitu dengan menggunakan teknik papan ikat dan kupingan pengikat. Untuk mengikat papan-papan digunakan tali ijuk. Runtuhan kapal banyak ditemukan di situs di Sumatera dan juga di perairan Ceribon.
Mengenai bentuk kapal kira-kira seperti yang digambarkan pada relief candi Borobudur. Ada yang mempunyai cadik dengan tiang-layar. Dan ada pula yang tidak bercadik. Kapal yang bercadik diduga merupakan kapal samudra. Kemudinya terletak di samping bagian belakang.
Dengan kapal-kapal seperti itulah Sriwijaya menguasai jalur perdagangan selat Malaka. Beberapa kota pelabuhan di sepanjang tepian selat, berhasil dikuasai. Kapal-kapal niaga yang melalui selat harus membayar cukai kepada Sriwijaya.

Dengan penundukan Negara-negara tetangga dalam abad ke tujuh Sriwijaya timbul sebagai kekuatan besar di Asia Tenggara. Sriwijaya sepenuhnya menguasai lalu lintas perdagangan dan pelayaran di selat malaka. Keuntungan Sriwijaya dari perahu-perahu asing yang melalui Selat Malaka berlimpah-limpah. Selain keuntungan dari penarikan bea-cukai, Sriwijaya masih mendapat keuntungan dari perdagangan. Dari pernyataan I-tsing mengatakan perahu-perahu asing itu datang pada musim-musim tertentu. Mereka tinggal selama beberapa minggu lamanya sampai musim panas atau dingin, menunggu datangnya angin baik. Selama tinggal di pelabuhan kapal-kapal dadang itu mendapat kesempatan baik untuk membongkar dan menaikkan muatan demi kepentingan perdagangan.
Selain dari itu Sriwijaya juga mempunyai hasil bumi yang dapat dijadikan bahan perdagangan internasional, yakni : tulang penyu, gading, batu bermutu, mutiara, bermacam-macam kayu, cendana, gaharu, laka dan aloe; dammar, ratus, setangi, rempah-rempah seperti cengkeh dan lada, tumbuh-tumbuhan untuk obat-obatan misalnya kardemon.




Barang dagangan itu dibeli oleh pedagang asing dengan emas dan perak, atau ditukar dengan barang pecah belah, barang porselen, kain katun, kain sutra, kain brokat, gula dan beras.
Ramainya perdagangan menambah kesejahteraan rakyat dan kemakmuran Negara. Dalam bidang pelayaran dan perdagangan , Sriwijaya tidak bersikap pasif, menggantungkan diri kepada kapal-kapal dan pedagang asing saja.  Sriwijaya membina kapal-kapal dagang yang berlayar ke berbagai Negara asing dan Negara-negara bawahan.

Sebagai Negara induk Sriwijaya setiap tahun menerima upeti dari Negara-negara bawahan berupa hasil bumi, perak dan emas atau barang-barang lain dalam jumlah yang ditentukan. Tidaklah mengherankan bahwa karenanya kekayaan raja Sriwijaya itu berlimpah-limpah. Uraian I-tsing tentang Sriwijaya memberikan kesan bahwa pada akhir abad ketujuh Negara Sriwijaya itu makmur sekali. Dikatakan bahwa rakyat memberikan sajian bungan teratai emas kepada arca budha; dalam upacara agama tampak perabotan dan arca-arca serba emas. Rakyat dari semua lapisan berlomba memberi sedekah kepada para pendeta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar